Sebelum sketsa pertama dibuat, tim kami selalu memulai dari satu pertanyaan sederhana: material apa yang tumbuh dan tersedia di sekitar lokasi? Pertanyaan ini terdengar teknis, tapi jawabannya menentukan arah desain jauh sebelum bentuk bangunan ditentukan.
Konteks sebagai Titik Awal
Setiap lahan membawa riwayatnya sendiri — arah angin, jenis tanah, vegetasi yang sudah ada, hingga cara warga sekitar membangun rumah mereka selama puluhan tahun. Riset kontekstual bukan formalitas administratif, melainkan cara kami mendengarkan sebelum merancang.
"Bangunan yang baik terasa seperti ia sudah ada di sana sejak lama, bukan karena meniru gaya lama, tapi karena ia tumbuh dari logika tempatnya berdiri."
—
Material yang Berbicara
Batu andesit, kayu ulin, dan bata ekspos lokal bukan sekadar pilihan estetika. Material-material ini umumnya lebih tahan terhadap iklim setempat, lebih mudah dipelihara oleh tukang lokal, dan menekan biaya distribusi yang sering membengkak tanpa disadari klien di awal proyek.
Pada akhirnya, keputusan material lokal adalah keputusan jangka panjang — untuk bangunan, untuk penghuninya, dan untuk ekosistem pengrajin di sekitarnya.
